Random

Get this widget!

Pilih Font

Senin, 27 April 2015

Experience is The Best Teacher...???

Print Friendly and PDF

Rasanya ingin sekali mengisi artikel di blog saya ini dari minggu kemarin, namun karena padatnya jadwal training di Sentul selama 1 minggu bahkan, meskipun jadwal selesesai sesi  tertera sd pukul 21:00 namun kenyataannya bisa selesai jam 23:00 atau jam 24:00 saat kita harus selesaikan tugas kelompok.


Dan materi ini juga salah satu materi yang saya dapatkan pada saat mengikuti training CCE (Coaching & Counseling Effectively).  Alenia ini adalah cuplikan artikel Pak Ubaydillah AN dari majalah INTRA edisi jan-feb 2003. Namun artikel ini masih relevan kita baca. “Begitu akrabnya kalimat experience is the best teacher di telinga kita dan karena begitu akrabnya, maka kualitas pemaknaan terhadap pengalaman sering kita abaikan.
Seakan-akan dengan kualitas pemaknaan yang masih mentah pun sudah secara otomatis pengalaman kita jadikan guru. Padahal tidak demikian kenyataannya. Pengalaman bisa berpotensi sebagai belengu jika treatment yang akan kita berikan salah, la akan mengikat kita dengan tali keragu-raguan, rasa ketidakyakinan, tendency of action   yang rendah, ketakutan, kekuatiran, kekhawatiran bahkan rasa tidak berdaya dan jerah untuk melangkah. Seorang suami istri akhirnya memutuskan untuk tidak menikah setelah memiliki pengalaman bercerai. Seorang pengusaha pemula akhirnya memutuskan mengubur niatnya menjadi pengusaha setelah pengalaman bangkrut. Dan masih banyak contoh yang menggambarkan bahwa pengalaman mewariskan trauma dan belenggu. Lain, kapankah experience -will be the best teacher?”

Ada beberapa pertanyaan untuk kita bisa memahami apakah pengalaman bisa menjadi guru yang baik:

1.       Mengapa ‘Pengalaman’ perlu diwaspadai?

2.       Apa yang membuat ‘Pengalaman’ jadi guru besar?

3.       Mengapa pengalaman sama tapi nasib bisa berbeda?

4.       Jadi...Guru Besar Kita...sebenarnya adalah...

5.       Sebagai murid bilamana kita bisa mendapat manfaat besar?

Baiklah Guys... kali ini kita akan coba jawab dulu satu pertanyaan, kenapa pengalaman itu juga perlu kita waspadai. Mungkin dalam keseharian, kita pernah dengar istilah orang tua yang memaksa seorang anaknya agar hidup dengan cara seperti orang tuanya dulu. Misalkan orang tua dulu waktu kuliah tidak menggunakan sepeda motor namun menggunakan sepeda onthel. Kemudian waktu sang anak meminta fasilitas sepeda motor sebagai penunjang kegiatannya maka anak tersebut dimarahi dan dipaksa menggunakan sepeda onthel, padahal untuk efektivitas dan efisiensi waktu hal tersebut sudah bukan jamannya. Artinya kalau menggunakan sepeda onthel maka akan membuat waktu yang digunakan untuk menempuh lebih lama dan jarak yang bisa dicapai akan lebih pendek. Namun dalam kasus tertentu, dengan pertimbangan khusus bisa jadi pendapat orang tua benar bila memang tahu saat anak minta sepeda motor sesungguhnya hanya untuk kebut-kebutan, misalnya.

Ada kalanya orang sukses pada jamannya akan menekankan cara yang sama untuk meraih sukses generasi berikutnya meski beda zaman. Atau kesuksesan seseorang pada tempat lain akan dibawa pada tempat yang baru dengan memaksakan cara-cara yang sama seperti di tempat kerja yang lama. Hal ini bisa saja cara-cara kerja tersebut cocok atau bisa saja justru sama sekali tidak cocok cara kerja itu kalau diterapkan di tempat kerja yang baru. Bahkan kalau dipaksakan justru bisa merusak.

Pengalaman bisa sebagai gembok sebuah kemajuan, sebagai contoh seorang karyawan yang dulunya sering mencuri waktu perusahaan pada waktu tugas keluar kantor. Misalnya mengikuti sebuah event, maka dia akan mencurigai beberapa panitia pada event lain dimana ia tidak dilibatkan di event tersebut. Atau seorang karyawan yang melakukan penyelewengan budget untuk konsumsi atau peralatan pada suatu event, di kemudian hari Ia akan mencurigai panitia lain yang terlibat pada sebuah event. Atau lebih parahnya akan menuduh seolah-olah cara yang sama seperti yang dilakukannya juga di lakukan orang tersebut. Kalau hal ini benar maka bisa jadi ini sebagai control atau warning agar semua orang berlaku benar. Namun bila ternyata kecurigaan tersebut tidak benar hal ini bisa mematikan semangat kerja bahkan mematikan kreatifitas kerja. Dari sini kita kadang bisa menilai seseorang terhadap statement-2 yang dikeluarkan, dan sebagai pertimbangan dalam menilai orang tersebut bisa dilihat dari reputasi dan ketulusan hatinya. Masih banyak praktek gembok pengalaman ini terjadi di dunia kerja dalam kasus-kasus yang lebih rumit yang penulis amati dan tidak jarang penulis alami sendiri. Bahkan gembok pengalaman ini bisa sampai taraf pelecehen emosional bagi orang-orang berkuasa apabila ia menerapkan pengalamannya untuk sesuatu yg sebenarnya ndak cocok dengan waktu dan atau tempatnya

Hal ini juga berlaku juga pada kehidupan pribadi anak muda. Semisal ada anak muda yang jatuh cinta sama seorang cewek dan ternyata sang cewek cuman memanfaatkan materi atau tenaga cowok tersebut. Singkat kata hubungan percintaan pertama tersebut akhirnya putus oleh karena cowok tersebut menyadarinya. Suatu saat apabila cowok tersebut akan menjalin cinta sama cewek lagi untuk kedua kalinya, ia akan bisa melakukan beberapa  hal yang berbeda. Hal yang pertama cowok tersebut tidak akan melakukan pacaran lagi (jomblo seterusnya-meski ini jarang sekali terjadi). Cowok akan mencari cewek sebanyak-banyaknya dan tetap menaruh curiga akan cewek-cewek tersebut. Lebih parah lagi sekaligus justru membalas memanfaatkan cewek tersebut untuk senang-senang dan mendapatkan keuntungan materi semata. Hal itu didasari dari pengalaman sewaktu menjalin asmara dari cewek pertamanya. Hal yang berbahaya bagi dirinya dan bagi cewek-cewek yang dipacari adalah, kalau saja ada motiv dendam yang melandasi di setiap percintaannya. Dalam hal ini berarti pengalaman bukan menjadi guru namun pengalaman disini menjadi sebuah gembok dan belenggu ke arah kehidupan yang lebih baik.  Atau mungkin cowok tersebut akan mengambil langkah-langkah untuk lebih berhati-hati dalam mencari cewek. Berintrospeksi diri dan akan berusaha mencari cewek yang tulus. Dia juga mempunyai tujuan yang jelas dalam berpacaran dan tidak hanya mencari keuntungan semata yang hanya untuk memuaskan kesenangannya saja. Karena ia mendapatkan pengalaman yang buruk waktu pertama kali pacaran dan mendapatkan kegagalan dalam membina hubungan asmara, maka ia bisa merasakan pahitnya menjadi seorang korban. Dari kejadian tersebut dia justru berjanji untuk hati-hati dan tidak akan menyakiti hati pacarnya apalagi memanfaatkannya.

Contoh yang lain adalah seorang yang bernama Pak Ibnu Kholil yang berhubungan dengan kejadian yang saya alami. Pada waktu bulan April 2013 tepatnya tanggal 22 hari Senin. Saya sedang perjalanan ke Lombok untuk tugas kantor. Karena ada hal yang urgent dan genting terkait persiapan materi untuk tanggal 23nya, maka di pesawat saya sering membaca beberapa data melalui galaxy tab. Tanpa disadari galaxy tab saya tersebut tertinggal di selipan kursi didepan tempat duduk saya.  Pak ibnu kholil juga pernah mendapatkan pengalaman kehilangan laptop di pesawat. Namun sayangnya laptop tersebut tidak berhasil diketemukan. Pada waktu pak Kholil menemukan tablet saya, beliau mendapatkan alamat email saya dan melakukan klarifikasi.  Justru berdasarkan pengalaman pahit yang dialaminya, maka pak Ibnu Kholil justru berinisiatif mau mencari saya bahkan mau mengantar tablet saya ke kantor jalan magelang. Namun saya meminta agar bisa mengambil tablet tersebut di tempat pak Kholil berada. Sebenarnya dalam hal ini Pak Kholil bisa punya pilihan untuk memiliki tablet tersebut. Apalagi di tahun itu masih boleh dibilang tablet tersebut berharga karena jumlah tablet belum semarak sekarang dan harganya nggak semurah harga tablet-2 sekarang.  Namun itulah pilihan....BERSAMBUNG


0 komentar:

Posting Komentar