Random

Get this widget!

Pilih Font

Senin, 26 Mei 2014

Goa Selarong Tempat Mengatur Gerilya Pangeran Diponegoro

Print Friendly and PDF

Hari minggu nan cerah, saat itu saya bersama anak-anak jalan-jalan ke Goa Selarong. Tempat Pejuang besar dan berjasa bagi negara Indonesia dan khususnya kerajaan Mataram yang membawahi wilayah pulau Jawa. 
Ya, saya termasuk orang yang beruntung ketika saya harus bisa datang ke tempat itu untuk mengenang dan menghayati perjuangan Sang Pangeran Diponegoro yang berkorban untuk membela kebenaran. Beberapa mobil parkir di lapangan parkir yang ada di bawah sekitar 100 meter dari mulut goa. Namun terasa spesial diwaktu itu mobil saya dipersilahkan masuk dan boleh parkir sampai dekat tangga naik ke arah Goa.
Padahal disitu biasanya mobil tidak boleh masuk dan parkir disitu. Tetapi saya hari itu justru heran ada petugas parkir seorang ibu yang dimana ketika itu saya parkir di halaman parkir seperti mobil-mobil lainnya ibu-ibu itu mendekat dan bilang ke saya:"Apakah mau parkir diatas dekat Goa?." Lalu saya menjawab:"Apakah boleh Bu?" Jawab Ibu-ibu yang sudah tua itu :"Boleh Pak". Lalu aku menawarkan agar Ibu tersebut bergabung dan masuk ke mobilku supaya bisa bareng.  Tapi ibu-ibu tersebut tidak mau dan mempersilahkan saya duluan jalan. Sementara Ibu-ibu tadi mengikuti saya dengan berjalan kaki. Saya bercanda sama Istri saya. "Jangan-jangan kita ini disangka cucunya Pangeran Diponegoro Bu." Akhirnya dengan girang aku menyetir menuruti arahan ibu tersebut. Selepas dari tempat parkir mobil saya mau masuk ke halaman pelataran Goa. Saya menunggu Ibu tadi yang tak lama kemudian datang dan membukakan pagar halaman Goa tersebut.
Goa tersebut memang ada diatas bukit letaknya. Saya mendaki sekitar 150 anak tangga. Tidak terlalu jauh dan juga tidak terlalu tinggi untuk didaki. Mengingat saya punya pengalaman menuruni dan mendaki sekitar 800 anak tangga.
Saat itu saya jalan-jalan di Danau Toba,  Medan, Sumatra, dan mampir ke air terjun PisoPiso.

Diatas Goa ada 2 jalan setapak  yang kemungkinan besar menghubungkan ke desa-desa lainnya. Di goa tersbut dibagi 2 bagian. Ada Goa Kakung dan Goa Putri.  Goa kakung ini tempatnya agak datar dan lebih sempit dan Goa Putri ini agak luas namun tingginya ndak ada 1,5 meter. Goa Putri dipagari dengan pagar dari besi. Goa Putri sepertinya dalam keadaan darurat bisa dipakai untuk istirahat di malam hari.
Didekat Goa ada air terjun. Didepan air terjun ada 2 buah batu besar dan sering dipakai anak-anak untuk duduk memancing. Saya membayangkan apakah dahulu Pangeran Diponegoro pernah berunding dengan para prajurit diatas batu itu dimalam hari diiringi gemericiknya air terjun?
Diatas Goa ada gardu pandang. Kemungkinan dulu untuk tempat mengintai musuh. Dan diatas Goa ada 2 jalan verupa lorong kecil sebagai penguhubung desa lainnya. Kalau sekarang kondisi jalan sudah relatif enak. Jalan menuju Goa sudah ada anak tangga. Juga jalan dari arah Yogya juga sudah beraspal. Saya tidak membayangkan dahulu mencapai daerah  itu bagaimana ya?  Tentu dulu sang Pangeran menempuh jalan licin, terjal, dan gelap serta harus mendaki. Dan tentu kalau tidur di Goa itu dingin dan tidak nyaman dengan binatang-binatang mungkin ular dan ulat. Kalau ulat-ulat kecil masih dapat saya temui sampai sekarang. Bahkan anak saya si Jonathan kadang memegangnya untuk disingkirkan ketika ia mau prosotan di arena bermain.
Melihat perjuangan Pangeran yang melarikan diri dari Tegalrejo sampai di Goa Selarong. Kehilangan rumah akibat dibakar Belanda dan lebih dari 2000 jiwa prajurit Yogyakarta yang meninggal...saya dalam  hati bersedih dan berterimakasih pada perjuangan Sang Pangeran dan para pendukungnya. Mari kita lanjutkan perjuangan beliau untuk mengisi kemerdekaan dengan membangun bangsa dari sisi mental dan fisik. ....MERDEKA...!






0 komentar:

Posting Komentar