Random

Get this widget!

Pilih Font

Kamis, 15 Mei 2014

Cara Instan dan Cara INTAN

Print Friendly and PDF

Saya ingat waktu kuliah pernah mendapat nilai K, dan dosen saya dalam humornya berkomentar “wah ada mahasiswa yang karena aktif mengikuti kegiatan kampus hingga di ujian kali ini dia berhasil menciptakan rumus-rumus diluar teori”. Ya saya ingat
waktu itu saya ikut habis mengikuti kegiatan kemahasiswaan yang diselenggarakan di luar kota. Hari itu saya tidak tahu kalau ada ujian. Saya duduk di bangku depan dan saya mencoba mengerjakan pekerjaan sebisa mungkin. Saya belum siap untuk ujian di hari itu. Apalagi bahan-bahan kuliah belum saya dapatkan. Tapi itulah konsekuensi dan resiko yang tidak bisa saya antisipasi. Sebenarnya saya bisa saja melihat-lihat buku spt ada beberapa teman melakukannya.
Malu rasanya sehingga saya ingat bahwa mata kuliah tersebut saya tempuh ulang di tahun berikutnya.

Gambaran tersebut adalah sebuah gambaran kecil ketika saya harus berusaha menghargai sebuah proses belajar. Saya melihat siswa dan mahasiswa kalau ujian menyontek mungkin akan bisa mendapatkan nilai yang bagus. Namun kalau itu dilakukan, maka saya menilai mahasiswa atau siswa tersebut menggunakan cara instan dalam menggapai sesuatu. Cara instan “yang salah” dalam menginginkan sesuatu sebenarnya banyak kerugiannya diantaranya :

  1. Membuat kita menjadi malas. Karena dengan cara tidak berusaha sungguh-sungguh saja kita bisa mendapatkan hasil yang baik. Meskipun kadang itu merugikan diri sendiri atau bahkan orang lain.
  2. Tidak akan biasa menghargai proses. Sehingga dia akan mementingkan hasil saja. Meskipun hasil itu bukan cerminan kualitas dalam dirinya. Atau bahkan bisa mempengaruhi orang lain sehingga bisa membuat orang lain mengikuti cara yang sama. Maka proses yang dibangun oleh system yang ada akan tidak berlaku bila cara instan ini menjadi pilihan banyak orang ditempat tersebut.
  3. Melunturkan disiplin diri. Dengan cara-cara instan yang salah, maka kita akan tidak biasa memanage waktu dengan baik. Karena kita berpikir, buat apa memenage waktu dan susah-susah belajar kalau menyontek saja bisa mendapatkan nilai baik?
  4. Cara instan seringkali juga tidak mempertimbangkan waktu dengan benar dalam mengejakannya, bahkan seringkali buru-buru dalam mengambil sebuah keputusan. Sehingga bisa merugikan orang banyak keputusan tersebut.
  5. Cara instan terkadang membuat orang tersebut tidak peka dan tidak empati dengan orang lain. Dia akan cenderung egois dan mementingkan hasil diri supaya kelihatan baik sehingga tanpa sadar menanamkan nilai-nilai buruk dalam diri sendiri.
  6. Yang jelas cara instan untuk mendapatkan hasil yang baik dengan mengabaikan norma-norma dan peraturan yang ada akan membuat orang tersebut menjadi pribadi yang tidak jujur. Sehingga landasan karakter yang sangat penting ini bisa-bisa menjadi tidak dimiliki ketika siswa atau mahasiswa nanti terjun di dunia kerja.

Sebaliknya, Cara INTAN menurut pengalaman saya meski kadang bisa sulit saat menjalani atau terkadang harus menentang arus, bahkan bisa jadi melalui hinaan atau cercaan, maka cara ini akan lebih banyak memberikan hal-hal positif bagi orang yang menjalaninya atau bahkan orang disekitarnya akan turut merasakan meskipun terkadang tidak kelihatan dan mungkin tak dihargai. Orang atau siswa dan mahasiswa yang suka cara INTAN akan memiliki ciri-ciri positif dan mendapatkan manfaat positif seperti di bawah ini;

  1. Orang ini akan menghargai proses. Orang yang menghargai proses akan memiliki pandangan yang terintegrasi, sehingga tidak mudah memberikan statement-statement yang sepotong-sepotong. Bahkan akan tahu kendala-kendala dari perkataan atau harapannya. Ia akan tidak serta merta berkata : “Terserah cara apa saja untuk mendapatkan sesuatu hasil baik yang penting adalah hasilnya itu sendiri.”  Ia akan berjuang sungguh-sungguh dalam menggapai sesuatu. Kalau pelajar atau mahasiswa, ia akan belajar sesuai waktu yang terencana, dan tentu saja tidak akan menyontek saat ujian atau ulangan. Kalau karyawan, ia akan mencoba mencari ide-ide dan mengerjakan tugas-tugas dengan sungguh-sungguh baik ada pimpinan maupun tidak.
  2. Kualitas orang tersebut lebih baik. Tentu saja pasti kualitas orang-orang akan jauh lebih baik dibanding orang-orang yang menyukai cara-cara instan atau jalan pintas. Mahasiswa yang mendapatkan nilai B atau bahkan C, bisa jadi lebih berkualitas dibandingkan dengan mahasiswa yang mendapatkan nilai A sekalipun. Tentu saja kalau mahasiswa yang mendapat nilai A itu memperolehnya dengan banyak menyontek atau bahkan mengambil hasil pekerjaan teman-temannya atau mengambil milik orang lain.
  3. Orang yang memiliki cara INTAN, dia akan memiliki karakter yang baik pula. Ia akan terbiasa jujur dan suka akan kejujuran, ia akan lebih sabar dalam berjuang, ia bahkan akan menghargai sebuah kegagalan sehingga akan berusaha lagi dengan cara lain untuk meraih keberhasilan. Orang ini juga akan mudah diajak berdisiplin, dan bekerja dengan baik di setiap waktu. Baik ada pimpinan atau tidak ada ia akan memiliki tanggung jawab yang besar terhadap pekerjaannya. Begitu pula dengan pelajar atau mahasiswa yang menyukai cara-cara INTAN, ia akan terdidik berjuang, berdisiplin belajar, tidak grusa-grusu (tidak tergesa-gesa tapi cermat dan cepat), bangga terhadap nilai yang didapatkannya meskipun mungkin nilainya lebih rendah dibandingkan dengan temannya yang menyontek. Ia juga akan bisa memanage sesuatu agar dapat dipertanggung jawabkan bagi orang tua, masyarakat dan bangsa.
  4. Orang yang menyukai Cara INTAN akan memberikan pengaruh positif kepada orang lain. Sehingga akan menumbuhkan budaya positif dimanapun ia berada.



Baiklah pembaca, mari kita budayakan cara-cara intan dalam menggapai cita-cita yang tinggi meskipun kadang kita bisa bercucuran air mata dan keringat dalam menjalani prosesnya. JMT2014

0 komentar:

Posting Komentar