Random

Get this widget!

Pilih Font

Rabu, 16 April 2014

Bad News sometimes is Not Good News

Print Friendly and PDF

Dalam dunia ini, kadang orang ada yang berfikir untuk meraih sukses bisa dengan berbagai cara. Baik cara-cara yang baik atau cara yang tidak baik. Bahkan terkadang cara yang tidak baik bisa terkesan fenomenal, lebih cepat, instan dan terkadang aman. Lebih-lebih bila orang itu tinggal dilingkungan yang memang suka cara-cara yang tidak baik.

Misalkan seorang artis yang ingin sukses dan tenar menempuh jalan berbuat gossip yang tidak baik. Bahkan orang-orang tahu tindakan artis tersebut tidak baik, namun itu bisa digemari dan membuat ia tenar dan terkenal atau kadang justru membuat ia laris. Kalau kesalahan itu tidak disengaja, ya wajarlah manusia memang bisa salah. Tapi kalau kesalahan itu sebuah cerminan dari kebiasaan, wah itu bahaya apalagi kesengajaan yang sudah diskenariokan. Namun itulah yang sering muncul di TV. Bad news menjadi sebuah komoditi yang laris ditonton. Bahkan ada beberapa anggapan Bad News is a Good News dan Good News is a bad news.
 Tentunya ini adalah hal yang memprihatinkan bukan?
Bicara seseorang adalah cermin hatinya. Seseorang yang kalau berbicara kalem, lemah lembut dan sopan maka hati orang itu kemungkinan besar seperti yang nampak tersebut. Begitu pua bila orang berbicara nggak sopan, kasar dan menyakiti orang lain, maka kemungkinan hati orang tersebut terisi ha-hal seperti itu.
Biasanya orang yang hatinya jelek, selalu sirik pada orang lain. Kalau ada orang sukses, ia akan tidak senang. Dia sering berharap kesuksesan orang berpindah ke tangannya dengan proses yang gampang atau bahkan yang salah. Sebaliknya kalau ada orang gagal, maka ia akan mengalami kesenangan yang luar biasa. Bahkan kesukaan orang itu justru menebar berita jelek tentang orang lain sehingga dia berharap orang yang diajak bicara menilai dirinya menjadi baik.
Orang seperti ini mudah dibaca, kalau berbicara selalu menjelekkan orang lain. Dengan menjelekkan orang lain dia ingin mendapatkan pengakuan. Dia puas menyebarluaskan gunjingan, fitnah, dan adu domba. Kadang orang tersebut kalau seorang karyawan inginnya mendapatkan nilai baik namun bukan menjual ide baik atau konsep baik lalu mengerjakannya dengan tuntas. Tetapi bahkan bisa jadi ia merampas atau mencuri ide baik orang lain untuk mendapatkan nilai baik dengan proses yang instan dan kalau perlu jalan pintas. Saya pernah melihat tayangan hitam putih ketika ada orang baik yang sharing kalau ia sering digunjingkan kalau berbuat baik. Dipandu oleh Dedy Corbuzer dalam acara Hitam Putih, Dedy menutup dengan kalimat “Saudara jangan ragu dan risau kalau seorang mempergunjingkan Anda kalau Anda berbuat baik sesuai norma dan aturan yang berlaku, karena kalau seseorang mempergunjingkan Anda oleh karena hal itu, percayalah bahwa orang itu ada di belakang Anda dan tak mungkin bisa didepan Anda.” Mungkin ini benar juga dan kalaupun ada kekeliruan orang itu ada di depan, maka Anda pasti sudah ada di barisan lain dan barisan orang itu akan membuat barisannya menjadi kalah dan barisan Anda akan menjadi pemenang yang sesungguhnya. Ada pepatah mengatakan “Orang menabur ejekan tak akan menuai pujian.” Mungkin orang justru akan menuai kecaman dari orang-orang yang tadinya dekat dengan dia.
Orang yang suka membicarakan kejelekan orang lain terkadang dia suka mencari muka, bahkan menjelekan orang lain ke atasannya orang tersebut. Terkadang orang lebih suka mengandalkan koneksi dari pada kapabilitas.  Sebuah contoh lelucon saat orang melamar kerja bernama Bedo (nama samaran). Bedo melamar kerja dengan persyaratan bisa bahasa inggris, computer dan supel. Dia ditanya oleh HRD : “Apakah saudara Bedo bisa bahasa Inggris?” Bedo : “Ndak bisa Pak,” lalu HRD melanjutkan : “Aktif organisasi dan bisa computer?”, jawabnya : “Juga ndak Pak”. “Lalu apakah saudara tahu persyaratan jadi karyawan disini,” Tanya HRD. Bedo : “tahu Pak. Tapi Bapak saya kenal dengan Direktur perusahaan ini”. Saudara, memang tidak selamanya koneksi jelek. Tapi kita harus tahu mana yang baik dan yang merusak system.
Berbeda dengan orang yang tulus. Orang ini kadangkala bekerja dengan baik setiap saat. Bahkan kadang dia meskipun sedang tidak diawasi oleh pimpinan, ia akan bekerja dengan sungguh-sungguh. Orang seperti ini kadang tidak pintar mencari muka, dan bekerja bukan untuk mencari muka atau menghalang-halangi orang lain. Justru mungkin sedikit orang tahu bahwa orang ini baik. Atau kadang orang tertentu akan melihat sebuah hasil kerja yang bagus tanpa tahu kapan ia mengerjakan hal yang bagus ini. Namun sayangnya di dunia kerja kadang kebanyakan orang menyukai informasi negative dan juga suka pergunjingan-pergunjingan negative. Membicarakan kelemahan orang lain atau karyawan lain. Banyak orang di dunia kerja lebih suka menuntut daripada memberikan sesuatu yang positif terhadap perusahaan.  Bahkan karyawan yang baik  kadang berkorban untuk membantu lancarnya proses kerja di perusahaan, meskipun kadang harus berkorban secara financial juga dari keuangan pribadinya.  Bila melihat pimpinan atau posisi perusahaan bahaya, ia akan mencoba beberapa upaya agar pimpinan tersebut lepas dari bahaya dan juga perusahaan tersebut menjadi lebih baik. Meskipun tindakannya itu tidak dihargai atau tidak diketahui pimpimpinan atau perusahaan.
Orang baik, apabila dia diminta menilai kelemahan orang lain oleh pimpinan, ia akan mengatakan :”Saya mungkin sulit melihat kelemahan orang lain pak, tapi kalau demi peningkatan kerja orang itu mungkin saya akan sampaikan ke dia kalau mau dan itu belum tentu benar lho pak Penilaian saya ini. Mohon di amati atau dikaji team Bapak apabila saya atau Bapak yang tahu tentang hal ini”.
Memang badnews lebih banyak disukai orang daripada goodnews. Berita buruk lebih banyak tertayang di media atau televisi daripada berita baik. Itu membuktikan kalau berita buruk lebih popular. Bagi saya ini hal yang memprihatinkan.  Boleh sih sesekali ada berita nggak baik tertayang di TV, namun harus yang edukatif dan tidak menjadi berita yang menonjol dan diulang-ulang. Dalam menilai hal ini tergantung kedewasaan orang dalam menyimpulkan sebuah berita dan yang lebih disukai. Orang dengan mental positif maka tentu dapat menerima informasi dari salah satu orang lalu tidak akan diangkat serta merta menjadi sebuah kesimpulan.   Di dunia kerja juga demikian informasi negative bisa sering disukai daripada mencari ide-ide atau membantu kendala-kendala progam-program positif yang sudah direncanakan. Celakanya lagi kalau justru informasi negative dari seseorang bisa diterima menjadi sebuah kesimpulan tanpa melakukan croscek dulu. Bila mana itu terjadi maka orang menjual ide positif akan diabaikan, tidak dihargai dan tersingkir di perusahaan itu. Orang yang memberikan informasi negative tentang karyawan lain akan ebih bisa diterima. Maka perusahaan itu akan terjebak pada kemunduran dan kinerja yang tidak baik dan perusahaan itu akan mendapatkan hasil yang menurun. Jadi mental positif adalah modal didalam memfilter sebuah informasi dan merenda sebuah kesuksesan.

JMT'2014

0 komentar:

Posting Komentar