Random

Get this widget!

Pilih Font

Jumat, 07 Maret 2014

Etika Berteman Setelah Menikah

Print Friendly and PDF

Salah satu cara menladi mahkota suami adalah dengan menjaga kehormatan dan kepercayaannya. Dan hal ini dapat kita tunjukkan salah satunya dengan memerhatikan beberapa peraturan pertemanan setelah menikah. Apa saja?

1. Hindari relasi dekat dengan lawan jenis

Mungkin kita akan berkata, "Tapl kami dan dulu sudah bersahabat, dan terbukti tidak ada benih cinta di antara kami." Memang benar, tapi hubungan semacam ini tidak sebanding dengan resikonya. Bukan berarti kita tidak boleh berkomunikasi sama sekali, namun kadarnya perlu dikurangi. Mau tidak mau, saat kita sudah menikah, hubungan dengan sahabat (apalagi lawan jenis sudah tidak bisa sedekat dulu, waktu masih lajang. Ada batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar.


2. Lebih baik main aman daripada menyesal
Perselingkuhan (baik secara fisik maupun hanya perasaan sering kali bermula dari hal-hal kecil yang sebelumnya dianggap tidak "berbahaya”  (senng mengobrol, misalnya). Lebih baik, sebelum mendapatkan akibat yang sulit dibalikkan; hindari interaksi tidak perlu dengan lawan jenis. Hindari terlibat dalam percakapan berdua saja dengan lawan jenis. Jika 'itu berkaitan dengan pekerjaan, sebisa mungkin kondisikan ada rekan-rekan kerja yang lain yang ikut mengobrol. Atau, ajak pasangan untuk ikut serta. Mungkin sedikit terialu ekstrem, namun ini adalah cara terbalk untuk menghindari hal-hal yang mungkin akan disesali kemudian hari.  

3. Pikirkan pasangan
Pertimbangkan pasangan kita dalam setiap Interaksi kita dengan lawan jenis. Apa yang akan mereka rasakan jika mendengar perkataan kita atau melihat sikap kita. Apa yang akan kita rasakan jika ia berbuat sama seperti yang kita lakukan? Gunakan cincin pernikahan sebagai pengingat akan komitmen kita kepada pasangan, dan selalu ingat dia dalam apa pun yang kita lakukan. Terapkanlah selalu hukum kaslh. Lakukan kepada pasangan kita sebagaimana kita Ingin diperlakukannya.

4. Menjalin kedekatan dengan gender yang sama
Bukan berarti tidak boleh berinteraksi dengan pria, namun usahakan interaksi  itu  tidak tebih  dan  sebatas teman  blasa.  Jika  kita membutuhkan seseorang yong lebih daripada sekadar teman blasa, carilah yang memiliki gender yang sama. Pada dasarnya, baik wanita dan pria leblh baik jika memiliki sahabat yang sejenis, sehingga "nyambung", dapat saling menguatkan, dan tidak meniadi batu sandungan.

5. “Lupakan” Mantan
Hubungan dengan mantan yang baik-baik saja tentu adalah harapan semua orang. Dulu bertemu baik-baik, maka setelah berpisah pun hubungan dijaga dengan baik. Namun demikian, bukan berarti kita sah-sah saja untuk tetap berkomunikasi dengannya. Menjaga hubungan baik tentu harus, namun tidak perlu juga dengan cara melakukan komunikasi secara intens.

6. Ceritakan dengan siapa saja berteman
Saat menikah, ada satu hukum yang tidak tertulis namun harus dilakukan. Hukum Ini adalah menceritakan kepada pasangan dengan siapa saja kita berteman dan ke mana saja kita pergi atau apa yang kita lakukan dengan teman kita itu. Ini adalah salah satu wuiud penghargaan kita kepada pasangan. Selain itu, ini luga akan membantu pasangan untuk lebih mudah berbaur dengan teman-teman kita karena setidaknya ia tahu dengan siapa saja ia berbicara. Sehingga ia tidak merasa seperti terasing dan terkesan tidak tahu apa-apa (karena sang istri tidak pemah bercerita apa-apa).

dari buku : Spirit for Women. Edisi Sept 2013 cetakan Spirit Graphic 

2 komentar:

Posting Komentar