Random

Get this widget!

Pilih Font

Rabu, 26 Februari 2014

Masa Depan Baik Membutuhkan Karakter Baik (cuplikan biografi)

Print Friendly and PDF

Sewaktu kuliah, saya berusaha ingin membantu kesulitan orang tua dalam memberikan biaya kuliah untuk diriku. Orang tua saya dikaruniai 10 anak. Saya anak ke-9 dan masih ada 1 adik lagi di rumah yang masih sekolah. Jadi saya ndak membayangkan betapa susah dan lelahnya kedua orang tuaku dalam mengasuh kami dan berjuang membiayai kami. Saat itu saya sudah menempuh kuliah 5 tahun dan berada di sebuah fakultas Tehnik di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogya.
Merasa bersalah sama orang tua, maka saya memutuskan selang study sambil menyusun tugas akhir kuliahku. Memang di fakutltas kami tahun-2 itu (Th 1990-1996), terkenal susah untuk mendapatkan nilai IPK diatas 2,5.

Sehingga kalau memiliki transkrip nilai diatas 2,5 maka ada kebanggaan. Saya mencoba melamar beberapa pekerjaan dan dari pintu-pintu perusahaan dan instansi-instansi saya mencoba memasukkan lamaran kerja. Kadang saya datang langsung ke beberapa toko ataupun tempat usaha untuk menawarkan diri saya. Berkali-kali saya menerima penolakan. Saya berpikir ndak berani meminta uang saku untuk meneruskan tugas akhir kuliahku. Karena itu aku memberanikan diri untuk ambil selang studi dan mencari kerja.
Hal yang cukup berat bagi saya adalah ketika mendapatkan jawaban penolakan. Satu-persatu penolakan saya terima dengan ikhlas. Meski sedih ketika mendapatkan kenyataan itu. Siang hari menyusuri jalan-jalan di kota Yogyakarta saya hiraukan panas terik matahari dan kadang gerimis yang sesekali menerpaku. Hingga suatu hari saya bertemu kios kecil di sebuah komplek jl. Mozais Gathotkaca, tepatnya sebelah hotel Radison (sekarang Jogjakarta Plaza Hotel). Disitu ada sebuah pengetikan dan terjemahan “KABOEL” namanya. Sekarang (th 2013) sudah tidak ada, namun ada cabang di Jl. Kaliurang namanya Friendly Komputer.
Disitu sedang ramai dan saya melihat seorang ibu membaca sebuah teks dan seorang Bapak sedang mengetik. Mereka berhenti sejenak dan bertanya kepadaku “Mau mengetikan tugas mas”, saya jawab: “Nggak pak, saya mau melamar kerja!”. Kemudian Bapak itu berhenti sebentar mengetiknya dan bilang ke saya: “Disini kalau siang karyawannya sudah lengkap, kalau mas mau menunggui kios ini sore dari jam 16:00 sd jam 22:00 sambil menerima ketikan mau nggak.?” Dengan spontan saya jawab “wow mau Pak”. Kemudian saya kenal dengan Bapak & Ibu itu bernama Mas Budi dan Mbak Tina. Mereka suami istri, yang adalah pemilik usaha tersebut. Mas Budi saya kenal lengkap dengan nama Kaboel Budiono. Saya diserahi menunggu kios kalau sore hari seorang diri dan biasanya jam 21:30 mereka datang menengokku dan mengambil hasil kerjaku dan kunci kios itu. Saya pulang dari kios itu setiap hari jalan kaki sekitar 2 km dari tempat kosku.
Pada waktu itu gajiku sekitar Rp 60.000 per bulan dan biaya sekali makan di waktu itu rata-2 Rp 250 sudah ada lauk ayam, ada sayurnya juga lengkap dengan nasi putih. Tentu saja segelas air minum gratis. Setelah kerja 1,5 bulan seperti itu, tiba-tiba suatu waktu saya sore hari ditemui bos saya. Mas kalau mau saya ada sepeda ndak terlalu bagus bisa untuk pulang kos dan berangkat kerja. Langsung saya jawab mau. Saya ndak malu misalkan bos saya membatin “Wo anak ini dasar geleman” (geleman dalam bahasa indonesia mudah menerima). Saya pikir asalkan hal baik dan niat bos saya saya lihat juga baik, kenapa ditolak.
Kurang lebih 2 bulan saya kerja dengan menggunakan sepeda kebanggaan pemberian bosku. Dan tiba-tiba bosku mungkin melihat aku kasihan kalau kerja sendirian sedangkan sore hingga malampun sering ramai kerjaannya, maka ia membuka lowongan dan menerima 1 orang lagi. Saya bekerja berdua dengan teman saya. Dan 2 bulan kemudian Bos saya menawarkan kepada teman saya untuk bisa nungguin cabang yang baru tidak jauh dari situ sekitar 700 meter. Suatu saat temen saya dikomplain oleh pelanggan di cabang yang baru tersebut. Bos saya kaget karena belakangan diketahui pekerjaan itu tidak dimasukkan ke pekerjaan kantor secara resmi tapi dikerjakan di tempat lain dan pembayaran langsung diterima temanku. Kemudian temanku dipecat dari kerjaannya dan sekarang saya ndak tahu ia kerja dimana. Dan akhirnya di cabang itu hanya bisa buka di siang hari sampai pukul 16:00 sore hari. Andaikan temanku tadi bisa dipercaya dan memiliki karakter yang baik, tentu akan dipercaya bosku yg saya nilai sangat baik itu. Sehingga usaha akan semakin maju pula. Dan tentu imbasnya akan baik juga ke temenku tadi.
Saya kemudian oleh bos saya dipercaya untuk menungguin kios itu bahkan kunci kios itu diserahkan ke saya. Saya bersyukur karena saya boleh tidur disitu dan belajar komputer kalau pagi hari sebelum kantor buka. Kios itu buka jam 07:00 dan saya biasa bangun paling telat jam 5 dini hari untuk belajar sedikit tentang komputer. Karena saya sadari kalau biaya kursus mahal bagiku. Tidak lupa kalau jam 06:00 saya menyapu dan bersih-2 komputer dan merapikan berkas-berkas, meskipun itu sebenarnya bukan tugas saya.
Tidak disangka ternyata setelah saya selesai kuliah saya 3 hari sebelum wisuda saya diterima di sebuah perusahaan korea di Bekasi Barat. Dan kurang dari 1 tahun karena alasan kesehatan, saya pindah kerja di perusahaan tempat saya kerja sekarang. Saya bersyukur karena pengelaman kerja di kios kecil itu membantu saya dalam proses kerja di perusahaanku sekarang.
    

2 komentar:

Posting Komentar