Random

Get this widget!

Pilih Font

Selasa, 18 Februari 2014

Kisah Dibalik Letusan Gunung Kelud

Print Friendly and PDF

Kami di stasiun Bandung dari kiri ke kanan (Saya-Michael-Pak Wieliong)

Berawal dari meletusnya Gunung Kelud di Jawa Timur. Pada hari itu, 7 Bandara ditutup akibat hujan abu vulkanik. Bandara yang ditutup diantaranya Bandara Surabaya, Yogya, Semarang, Solo, Bandung. Hari itu saya sedang perjalanan dinas di Jakarta. Saya menginap di hotel Mulia Jakarta.  Jum’at pagi tanggal 14 Februari 2014 itu saya sedang sarapan pagi pukul 06:45 WIB. Karena saya ada janji dengan pak Lukas yang saya sampaikan melalui BBM. Pak Lukas bertanya mau ke Bandara jam berapa dan saya jawab jam 07:45 WIB. Sebab itu saya sesudah check out maka saya sarapan pagi duluan.
Pada waktu sarapan banyak perbincangan mengenai Bandara ditutup karena ada Gunung meletus.
Saya kaget dan spontan bilang sama Anton tentang perasaan adanya Gempa bumi semalam. Waktu itu Anton dari HSO Mataram duduk semeja dengan saya. Saya juga bercerita tentang perasaan adanya Gempa yang waktu malam harinya saya sampaikan ke Pak Lukas dan Michael masih dalam riuhnya acara pesta. Pak Michael atau pak Lukas spontan menjawab ah itu hanya perasaanmu. Baru asyik sarapan tiba-tiba istri sya telpon ngingetin klo pulang sempat mampir ke alfamart atau indomart untuk beli masker. Saya menjawab SAYA UDAH BAWA MASKER DARI JOGJA. Saat mempersiapkan ke Jakarta tanpa sengaja saya memasukkan masker mulut ke koper saya. Istri saya telpon ke saya menginformasikan Jogja jam 6:30 lebih masih gelap tidak seperti biasanya udah cerah kelihatan matahari. Pak Totok LO dari Semarang yg saat itu duduk dengan team Semarang mennimpali kok nggowo masker, kan yg jadi masalah pesawat ndak bisa turun ke Jogja. Saat itu saya juga ditelpon Mas Dhidha yang menginformasikan bahwa dia udah di Bandara dan penerbangan ke Jogja ditutup. Dia juga menanyakan rencana saya selanjutnya.
Tidak lama sarapan saya baca BBM Pak Michael mau sarapan jam berapa? Dan saya jawab ini sedang sarapan dan ia menyusul. Selesai sarapan saya ke loby nunggu pak Michael ambil tas. Saat nunggu di loby ketemu dengan pak Budi Hartanto dan mengajak bareng aja ke Bandara.  “Baik Pak” kata saya. Kemudian bertemu dengan pak Lukas dan Anton Chandra yang juga mau sarapan bersamaan dengan mereka pak Michael juga sudah membawa kopernya datang.  Saya berpikir meski Bandara ditutup bukankah jadwal pesawat jam 10:00? Dan kebetulan Pak Michael mengajak saya untuk berangkat duluan ke Bandara Soekarno Hatta. Pak Michael ndak usah telpon di bbm saja sambil kita jalan ke Bandara. Tapi saya tetap telpon dulu ke pak Lukas dan pak Budi agar bisa berangkat ke Bandara duluan karena udah jam 8:15 WIB, sambil melihat situasi disana dan bila jurusan lainnya (Semarang) juga ditutup saya akan kabari mereka untuk mereka bisa langsung ke Stasiun Gambir mencari tiket kereta.
Saya bersama pak Michael ke Bandara, selesai saya bayar taksi kami antri dan melihat Bandara agak krodit. Saya ke Customer Service Garuda dan mendapat informasi bahwa Bandara Jogja ditutup 3 hari. Kami diberikan surat pengantar untuk minta REFUND tiket. Saat itu saya bertemu dengan salah satu dosen UGM yang antri refund di depan saya, kami bercerita berbagi nasib. Dan dari situ saya dengan pembicaraan Dosen tersebut dengan counter tiket Garuda bahwa penerbangan ke Semarang juga ndak dilayani, meski belum ada pengumuman ke Semarang di tutup tapi tiket ndak dijual. Sambil antri, saya telpon pak Lukas ttg info tersebut dan saya minta mereka langsung ke Stasiun Gambir. Saya juga sending message melalui BBM kalau temen-2 beli tiket kereta bisa melalui indomart atau alfamart sekalian beli masker. Saya juga usul ke BBM groub bila mungkin HSO Yogya bagi-2 masker ke masyarakat melalui GA pak Anton. Saya pesen melalui Yolanda bila bertemu pak Anton di kantor HSO Yogya. Tak lama kemudian pak Wieliong menemui kami yg sedang antri tiket refund. Pak Wieliong akan ada meeting lagi di Jakarta tanggal 17 Feb sehingga kalau pulang ke Irian nggak efektif waktunya dan biaya terlalu mahal. Kami diskusi bertiga dan alternatif rencana perjalanan pulang adalah dengan kereta, atau bis atau travel. Sambil kami naik taksi ke stasiun gambir Pak Wieliong dan Pak Michael bercanda tentang JAS yang kebesaran dan sesekali saya menimpali sehingga kami ketawa-ketawa. Sambil bercanda saya bilang ke Pak Wieliong kalau nanti ke Jogja habis nyari kereta ke jurusan lain ndak apa ya pak? Ke bandung atau Purwokerto? Pak Wieling menambahkan atau ke Cirebon? Dan kami sepakat itu. Pak Ronald menelpon saya memberikan saran alternatif sewa TRAC bersama. Tapi karena udah hampir nyampai Gambir maka kami informasikan kalau kami mau ke Bandung.
Setiba di Gambir saya bertemu lagi dengan Dosen UGM tersebut yang antri di jalur lain di depan saya. Lalu saya informasikan ke beliau kalau bisa cari tiket lain jurusan klo ke Jogja penuh. Karena kami melihat dari LCD adanya jadwal kereta malem jam 19:00 namun ndak tahu apa masih ada tempat duduk. Tiba-tiba Ddidha muncul di antrian belakang saya. Dan ia berusaha cari tiket juga. Saat antrian saya ndak tahu kok antrian depan saya cepet habis dan mereka pergi ndak dapat tiket sehingga antrian dosen tersebut lebih lama dibanding lajur antrian tempat saya. Saat sampai di counter tiket saya informasikan beberapa jadwal kereta termasuk kereta Lodaya dan Turangga dari bandung ke Jogja. Counter tsb menginformasikan kalau ada 3 penumpang Lodaya dari Bandung ke Jogja  cancel tiket 3 orang. Tapi klo Turangga penuh. Maka kami langsung ambil 3 tiket itu dulu sambil saya minta maaf ke Dhidha. Kebetulan juga 45 menit kemudian ada kereta executive ke Bandung.
Suasana perjalanan kami jadi enjoy ditambah sharing dari Pak Wieliong tentang berbagai hal dan kami saling sharing. Sesekali juga kami mendengar pak Mich dan Pak Wieling bercanda soal Jas dan juga soal humor lainnya. Setiba di stasiun Bandung, kami berfikir untuk membeli masker. maka saya minta tolong kepada keponakan yang kebetulan kerja di Sanbe Farma Bandung untuk membelikan masker. Begitu pula dengan Pak Williong. Pak Williong minta tolong kepada Mas Adi SO Head Bandung untuk membelikan masker. Sebab begitu nanti turun dari kereta, kami tahu bahwa akan banyak debu berhamburan di stasiun Tugu Yogyakarta.
Setiba di stasiun kami berpisah ke tempat kami masing-masing. Kecuali saya dan Michael yang berbarengan naik taksi ke kantor. Tiba di kantor HSO Yogya pukul 04:30 WIB dini hari. Saya membantu cuci mobilnya Michael yang penuh dengan debu vulkanik. kemudian dipakai mengantarkan saya ke rumah.
Jam 05 dini hari saya sampai rumah Sabtu 15 Feb 2014. Seperti biasa saya kemudian masuk kantor di Sabtu pagi itu dan sempat di hari itu email ke user hso millist ttg informasi Jogja.

0 komentar:

Posting Komentar