Random

Get this widget!

Pilih Font

Minggu, 12 Januari 2014

Dari Masa ke Masa Honda Memang “Mengerti Saya”.

Print Friendly and PDF

Luar biasa” begitu pemikiran saya ketika bertemu dengan keluarga ini. Pasangan suami istri ini dikaruniai 3 anak. Saya melihat keluarga ini penuh syukur dan damai. Tim redaksi yang berkunjung kesana ikut merasakan suasana sejuk pula. Meskipun  saat itu sudah pukul 19.00 WIB, tapi suasana pertemuan dengan keluarga BP. Sagimin dan Bu Endang ini sesegar udara di pagi hari.

“Selamat petang pak Jum, ini kebetulan anak-anak pas lagi ngumpul”, begitu sapa akrab Bu Endang. “Karunia Tuhan lho pak kalau bisa kumpul. Sebab jarang-jarang bisa kumpul bersamaan”, begitu lanjut Beliau. Memang benar kita tidak dapat merencanakan waktu yang akan datang jika tidak di beri ijin oleh Sang Pencipta Waktu sendiri.

Anak pertama bekerja di perusahaan Swasta di Jogja. Mas Dion panggilan akrabnya, sambil kerja ternyata kuliah juga. Bagi waktu ya Mas Dion dan kejar study sampai lulus. Kami keluarga Honda juga turut senang bila Mas Dion tambah sukses nantinya. Anak ke dua masih sekolah di SMA Negeri di Jogja. Mas Yakob yang kebetulan sore itu pulang tiba dari Jogja pula. Yang paling kecil Mbak Susan masih duduk di SMP.
Baik Mas Dion ataupun Mas Yakob keduanya pakai Sepeda Motor Honda dalam beraktifitas.

Mas Dion selalu ditemani Honda Tiger yang sudah dimodifikasi, Sedangkan Mas Yakop menggunakan Supra X. Bapak menggunakan Karisma dan Ibu Supra Fit R CW..

Hangat sekali sambutan keluarga yang letaknya 25 km dari kota Jogja ini. Bahkan waktu saya singgung mbak Susan nanti kebagian apa ya pak? Wah itu lho mas nanti mungkin kalau sudah waktunya ”yang cewek mungkin kebagian Vario”. Kata pak Sagimin.

”Saya sebetulnya senang sekali motor Mio Mas, namun yang merk Honda” katanya. ”Lha kemarin barusan beli Supra Fir R”. lanjutnya dalam logat jawa yang akrab. ”Wah mudah-mudahan sukses selalu deh pak” kata saya.

Di kalangan sekolah Ibu Endang juga sangat disegani oleh para muridnya. Bahkan sampai sampai saat muridnya terlambat dan merasa salah oleh bu Endang tidak dimarahi namun ditegur dengan akrabnya dan sang murid menjawab seperti iklan Honda ”terima kasih Bu Endang,  wah Bu Endang memang mengerti saya” begitu jawabnya sambil menirukan logat Butet Kertarajasa di iklan Honda.

Sangking akrabnya  kami berbincang sampai pkl 19.00 lebih. Wah redaksi jadi ndak enak waktu tim redaksi mau pulang eh ternyata malah makanan khas Kulon Progo keluar, yaitu slondok dan hidangan lainya.  Wah-wah jadi ndak enak nih.

0 komentar:

Posting Komentar