Random

Get this widget!

Pilih Font

Senin, 13 Januari 2014

Apa yang Pahit di Dapat sering Manis untuk di Kenang

Print Friendly and PDF


Pengalaman saya ini sudah terjadi agak lama. Tepatnya pada tahun 1998.  Saya sebagai Service Engineer sekaligus PIC Training mekanik di HSO Semarang. Pada tahun itu di Indonesia mengalami krisis akibat kenaikan nilai tukar dolar dan melemahnya nilai rupiah.  Nilai 1 dollar Amerika semula Rp. 2.500,-. Namun pada periode itu nilai tukar rupiah terhadap mata uang dollar bisa mencapai Rp 12.000 per satu dollarnya. Sehingga berakibat harga-harga barang di negeri kita ini menjadi melonjak. Saya teringat harga sepeda motor Supra 100 cc pada tahun 2007 adalah 4,6 juta. Setahap-demi setahap harganya naik menjadi 5 juta, 6 juta dan hampir senilai 8 juta rupiah. Dengan demikian penjualan motor pun tidak seramai yang diharapkan.
Dengan adanya krisis global tersebut, beberapa perusahaan berupaya untuk survive.
Salah satunya menjalankan program CRP (Cost Reduction Program). Hal ini tentu saja penting buat menekan jumlah pengeluaran.  Beberapa contoh di lapangan yang terkait dengan pelaksanaan CRP adalah : fotocopy pakai kertas bekas, jadwal perjalanan dinas diprioritaskan untuk kepentingan-2 yang urgent, sehingga supervise-2 ke jaringan yang sifatnya pembinaan seperti biasa tidak dapat terlaksana secara rutin.
Untuk Training mekanik, jadwal pelaksanaan training mekanik waktu itu cukup padat. Justru disaat penjualan motor tidak ramai, kegiatan PD berkurang, dan event-2 lain juga berkurang, maka untuk training justru tetap berjalan bahkan diminta dari manajemen untuk nambah batch pelaksanaan. Kesempatan itu diminta sebagai kesempatan untuk menempa SDM Astra dan jaringannya.
Terkait dengan program CRP tersebut, maka kami dari bagian TTD (Technical Training Development) mengadakan beberapa upaya penekanan biaya. Diantaranya adalah kita tidak menyewa mobil antar jemput peserta training dari hotel ke AHTC(Astra Honda Training Centre). Sebagai gantinya, maka saya dan beberapa instruktur lain, Sudin Winata, Edy Aeriyanto, Michael, Ari Ardian almarhum, Visiawan, Hery Suryo, Deny Setyawan,  dll bertugas menjemput para peserta dari hotel ke AHTC. Kami biasanya berangkat lebih pagi (jam 06:30 WIB tiba di kantor) untuk mengambil mobil di kantor kemudian menjemput mekanik.  Training dimulai jam 08:00 WIB. Ada hal yang mengesankan dan lucu kalau kami berbincang di perjalanan. Para mekanik sering bertanya “Sudah berapa lama di Astra pak?”, “Enak ya jadi drivernya Astra?”, dll. Hal itu dialami beberapa teman supervisor yang lain. Bahkan kalau di perjalanan melihat cewek di pinggir jalan mereka ada yang teriak, “Pak Sopir, tolong itu diajak training, dongkrak saya udah lama nggak digunakan”! Hingga pada akhirnya saat saya membuka training atau mengajar pada hari pertama training, mereka minta maaf. Mereka bilang satu sama lainnya: “Wo,…jebule (ternyata) pak guru yang menjemput kita.. maaf ya pak!”. Kalau hari minggu, saya sebagai PIC training sering melakukan cheking peserta ke hotel dengan mengendarai Honda motor kesayanganku.
Untuk kebersihan ruangan jumlah OB juga dikurangi atau bahkan kadang nggak kebagian OB. Maka Pak Sudin, Pak Edi yang tidak bertugas menjemput mekanik, melakukan bersih-bersih menyapu ruangan dan membersihkan kaca jendela dan pintu. Mereka berdua juga mempersiapkan kebersihan alat-alat atau menata ruangan. Bahkan untuk buku-2 training mereka buat di atas rak dengan ditutupi pakai kerdus bekas part yang ditulisi judul buku di rak tersebut. Rak buku buatan tersebut bukan sepantasnya sebagai rak buku. Namun dengan cara-cara sederhana bisa disusun secara rapi dan menarik. Sedangkan untuk spanduk backdrop untuk foto bersama kami lakukan modifikasi juga. Supaya nggak cetak spanduk berulang, maka periode pelaksanaan kami kosongi dan kami isi dengan periode setiap pelaksanaan training dengan cara mencetak menggunakan printer. Seingga lebih hemat biaya, waktu dan tenaga.
Mengenai jumlah computer yang terbatas juga menjadi sedikit kendala buat kami bekerja. Waktu itu ada 8 supervisor service, 3 orang bagian claim, 2 administrator, 2 orang trainer. Kami memiliki 1 PC windows 3 untuk sekertaris service, 1 PC untuk bagian claim, 2 PC untuk supervisor, 1 PC untuk training, 1 mesin ketik brother, 1 mesin ketik elektrik.
Untuk report training, belum ada form standard dari pusat. Kami mengerjakan report-2 menggunakan peralatan secara bergantian. Mengingat pelaksanaan training cukup banyak, maka reporting juga menjadi sangat penting bagi kami. Di tahun 1998 inilah kami belajar mengenai rumus-2 di program excel. Kemudian kami ; Michael, Pak Sudin, Saya dan beberapa temen lainnya mulai membuat form standard untuk report pelaksanaan training mekanik. Kami bangga karena ternyata form tersebut dipakai sampai sekarang. Bahkan juga dipakai untuk reporting ke PT. AHM. Dimana tahun 1998 AHM belum ada, namun form yang dipakai sudah kami buat. Sebelum ada form itu, kami sering membuat ID card dengan cara manual. Juga untuk desk name, dan absensi. Kami buat satu persatu secara manual. Termasuk nilai kelulusan.  Hal itu ternyata sangat tidak effektif dan banyak memakan waktu, tenaga dan biaya. Belum lagi hasilnya kurang  dan tidak bisa cepat. Apalagi kalau hitung-2 nilai harus pakai kalkulator. Namun dengan menggunakan form tersebut akhirnya kami bisa mengerjakan lebih cepat dan akurat. Untuk kepentingan arsip file juga tidak perlu memakan space yang besar. 
Form laporan training yang kami buat dengan menggunakan program excel ini sangat membantu. Kami melakukan rekap biodata peserta. Dari biodata kami belajar melakukan link ke daftar hadir, kemudian desk name, id card, serta daftar nilai dan sertifikat serta feedback ke masing-masing SE (Service Engineer) berdasarkan wilayah kerja mereka. Feedback ini bagian penting untuk informasi para SE area atau supervisor marketing area. Dengan demikian supervisor bisa mengkomunikasikan ke owner atau pimpinan dealer atau bengkel tempat para mekanik bekerja. Dengan form tersebut maka kami dapat menghemat waktu. Nama peserta tinggal kami print dan tidak perlu ketik ulang baik di absensi, desk name, id card atau di form feedbacknya. Secara waktu kami lebih singkat, lebih akurat hasilnya dan tentu saja menghemat biaya dan tenaga. Untuk itu saya kirimkan juga file excelnya.

2 komentar:

Posting Komentar